Farid Wajdi : Ada yang Dimiliki Majene Tak Dimiliki Kota Lain di Sulbar

0
292
Foto: Dispar Sulbar
Advertisement

Laporan : Risna

Majene, BanuaUpdate-Dalam rangka mensosialisasikan peran Majene dalam sejarah di kawasan ini sekaligus menjadikannya sebagai salah satu bagian dari kepariwisataan Provinsi Sulawesi Barat, Komunitas Panggoling Mandar Balanipa (GOMBAL) berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat mengadakan event Jelajah Majene Kota Tua pada Minggu, 28 Maret 2021.

Event ini diikuti sekitar 40-an peserta, yang sebagian besar berasal dari komunitas penggemar sepeda modifikasi yang disebut minion, yaitu Minion Assamalewuang Community (MAC). Menurut ketua MAC Majene, Apdhaluddin dengan diadakannya event ini memberikan dampak yang positif terhadap peserta salah satunya menambah wawasan peserta mengenai tempat-tempat bersejarah di kota Majene

“Saya mewakili teman-teman di MAC merasa sangat gembira dan antusias dalam mengikuti kegiatan Jelajah Majene Kota Tua. Kami sangat bangga bisa ikut dan berpartisipasi karena ini yang pertama kalinya ada kegiatan besar yang memperkenalkan Majene sebagai Kota Tua. Kami juga mendapat pengetahuan tentang tempat-tempat bersejarah di kota Majene.” tutur ketua MAC Majene ini.

Apdhaluddin juga berharap jika ke depannya ada kegiatan serupa yang berkesinambungan agar bernilai positif terhadap masyarakat sehingga perputaran ekonomi terus berjalan dan pendapatan masyarakat kian bertambah.

“Komunitas sepeda MAC mengharapkan nanti kegiatan ini berkesinambungan dan lebih banyak melibatkan komunitas pesepeda di Sulawesi Barat. Tentu akan sangat bernilai positif untuk masyarakat, khususnya Kabupaten Majene sebab akan ada perputaran ekonomi yang menjadi pendapatan di masyarakat, tentu juga ke pemerintah. Mari kita menggelorakan jelajah situs-situs kota tua di Majene,” tegas Apdhaluddin

Majene yang terkenal dengan kota Tua sekaligus kota Pendidikan ini belakangan menjadi ibukota Afdeling Mandar karena cikal bakal Majene sebagai kota dimulai 100 tahun silam. Koordinator Bersepeda Marasa, Muhammad Ridwan Alimuddin mengatakan bahwa pelaksanaan kegiatan ini guna memperkaya khazanah pengetahuan tentang keberadaan Majene sebagai Kota Tua yang kerap kali diabaikan sehingga banyak situs-situs bersejarah yang hancur dan tidak terurus.

“Kegiatan Jelajah Majene Kota Tua adalah bagian dari event Bersepeda Marasa, bersama Jalur Sutera Mandar yang baru akan dilaksanakan pekan depan di Desa Karama, Tinambung. Kegiatan ini penting kita adakan sebab sudah banyak yang tidak tahu tentang keberadaan Majene sebagai Kota Tua. Bukan hanya itu, banyak sekali situs-situs yang berkaitan dengannya yang hancur dan tidak terurus. Oleh karena itu, lewat kegiatan ini, setidaknya teman-teman yang ikut bisa mengenal bahwa di Majene ini banyak tempat-tempat bersejarahnya, khususnya kegiatan Belanda memusatkan pemerintahannya di Majene ini,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin, koordinator Bersepeda Marasa melalui rilis Dispar Sulbar.

Dalam rilis Dispar Sulbar yang diterima redaksi menyebutkan bahwa jelajah Majene Kota Tua menempuh jarak kurang lebih 8 km. Adapun rutenya sebagai berikut: Stadion Prasamya – Gereja Majene – Makam Cina – Pelabuhan Majene – Pesanggarahan (kompleks Mesjid Laikal Masir dan rumah jabatan Bupati Majene) – Makam Belanda – Museum Mandar dan finish di Gedung Assamalewuang.

“Rute yang dilalui hanya melintasi beberapa situs sekaitan Majene Kota Tua. Masih ada situs lain, tapi karena di even ini kita banyak singgah-singgah agar peserta bisa mengenal situs alias tidak lewat saja, maka rutenya pendek saja. Waktu yang kami habiskan dalam Jelajah Majene Kota Tua lebih dua jam. Kalau bersepeda terus, itu bisa sampai 50 km. Situs-situs lain yang bisa dijelajahi di kota Majene dan sekitarnya, diantaranya mercusuar Rangas, bekas rumah sakit kusta di Teppo, dan PLTD,” lanjut Muhammad Ridwan Alimuddin yang juga penulis buku “Majene Kota Tua”.

Dalam event ini, juga dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat, Farid Wajdi. Ia menggelorakan pentingnya membumikan kesadaran Majene sebagai Kota Tua.

“Ada yang dimiliki kota Majene tak dimiliki kota lain di Sulawesi Barat, yakni perannya sebagai kota tua. Peran itu tak bisa diemban kota lain, hanya Majene yang bisa,” Kata Farid Wajdi melalui rilis Dispar Sulbar.

Selain itu, Farid juga menghimbau agar masyarakat turut melestarikan artefak yang ada di Majene.

“Di sini ada banyak artefaknya yang harus kita lestarikan sebab menjadi identitas dan bisa menjadi bagian dalam kegiatan kepariwisataan. Ada banyak event yang kami usulkan ke Kementerian Pariwisata untuk dikurasi sebagai Calender of Event di Indonesia, tapi sepertinya yang akan lolos hanya Festival Majene Kota Tua,” lanjut Farid Wajdi yang terkenal vokal tentang kepariwisataan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here