Kisah-Kisah Perjuangan Orang Tua dan Siswa Belajar PJJ

0
221
Advertisement

Jakarta, BanuaUpdate–Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi orang tua dan siswa yang berjuang untuk memenuhi sarana dan prasarana sekolah daring secara pribadi. Seperti yang dilakukan dua orang siswa kakak beradik, Ahmad Fardan Azzmib dan Sofia Ghoyatun Nafisah, yang membeli HP dari tabungan mereka.

Dia membeberkan beberapa kisah perjuangan orang tua, siswa dan guru saat melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Apa yang dilakukan Ahmad Fardan Azzmib dan adiknya, Sofia Ghoyatun Nafisah, siswa/siswi SD di Magelang, patut dipuji karena rela membuka tabungan untuk membeli handphone agar memudahkan sekolah online. Bahkan keduanya bersama sang ibu tidak malu datang ke toko HP membayar dengan uang recehan,” puji LaNyalla.

Sedangkan sejumlah guru menggunakan handy talky (HT) untuk mengajar akibat keterbatasan sarana dan prasana. Di antaranya guru di SDN 1 Balerejo Madiun, guru Madrasah Ibtidaiyah Pasawahan Ciamis, dan guru SD Mojo Pasar Kliwon Solo.

Para guru ini membagi murid-muridnya menjadi beberapa kelompok yang rumahnya berdekatan, untuk bisa bersama-sama mengikuti pembelajaran melalui siaran HT guru. Cara ini dinilai memudahkan sehingga murid tidak terbebani kuota internet, dan bagi yang tidak memiliki HP masih tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Hanya saja, terkadang para siswa harus ke luar rumah mencari lokasi yang menangkap frekuensi pancaran HT guru, baik di jalan, kebon, bahkan hutan. Para murid pun tak merasa terbebani walaupun harus menerima pelajaran yang lain dari bisanya.

Keterbatasan jaringan dan kuota internet pun memaksa siswa di SMK Negeri 7 Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), menerima materi pembelajaran dari guru melalui aplikasi Facebook gratis. Guru SMKN 1 Bolo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, juga menyiasati persoalan jaringan dengan memberikan fotocopy materi di sekolah sehingga anak-anak bisa datang dan mengambilnya untuk mengerjakan kembali di rumah masing-masing.

Selain masalah jaringan internet, listrik yang sering padam juga menjadi kendala siswa mengikuti pembelajaran online. Hal tersebut dirasakan siswa di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, yang terpaksa mencari sinyal di pantai atau di atas gunung demi mendapatkan pembelajaran.

Mereka bahkan terkadang tidak bisa mengikuti proses belajar via online jika cuaca buruk terjadi di wilayahnya.

“Di daerah-daerah, khususnya yang berada di pelosok, masalah listrik ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Masih banyak juga desa yang belum teraliri listrik sehingga siswa di sana tidak bisa mengikuti pembelajaran online. Ini jadi PR besar pemerintah,” tutur LaNyalla.

Mantan Ketua Umum PSSI itu pun memuji para guru yang berjuang lebih untuk memastikan siswa-siswinya mendapat pembelajaran yang layak selama masa pandemi di tengah keterbatasan sarana prasarana. Seperti yang dilakukan guru di SDN Purbayani 1, Garut, Ujang Setiawan yang memilih mendatangi rumah siswanya  dengan sepeda motor untuk mengajar.

“Perjuangan para guru lebih berat saat pandemi ini. Saya yakin ada banyak guru seperti Pak Ujang yang rela berkeliling dari satu kampung ke kampung lain agar muridnya bisa mendapat pelajaran secara maksimal. Ini tidak mudah. Saya berikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi para guru di masa pandemi,” tutupnya.

Sumber: SIARAN PERS DPD-RI

Sumber Foto: Tempo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here