Pemerintah Kembangkan Industri Petrokimia untuk Tekan Defisit Neraca Perdagangan

0
75
Advertisement

JAKARTA – Guna menekan defisit neraca perdagangan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mengembangkan industri petrokimia.

Salah satu perusahaan petrokimia PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) diyakini akan memberikan kontribusi signifikan mendorong kemandirian industri sehingga tidak bergantung kepada impor.

Sebagai catatan, akibat tingginya impor petrokimia tahun 2020 sebesar USD7 Miliar dengan volume 7,33 Juta Ton, menyumbang defisit terhadap neraca perdagangan sebesar hampir USD 5 miliar.

Produk yang banyak diimpor adalah etilena, benzene, toluene, propilena dan silena serta polietilena, polipropilena yang merupakan bahan baku industri plastik.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Rionald Silaban menjelaskan, agar defisit secara perlahan dapat terus dikurangi, pemerintah terus mendorong pengembangan petrokimia di TubanPetro.

Apalagi, prospek pengembangan industri petrokimia masih sangat besar untuk dikembangkan dengan belum terpenuhinya kebutuhan bahan petrokimia untuk dalam negeri sehingga masih dilakukan suplai dari luar negeri yang dominan.

Rionald menjelaskan, selama pandemi Covid-19, kinerja TubanPetro Grup tetap terjaga dengan baik, sejalan dengan tren kenaikan di industri petrokimia.

Berdasar data pemerintah, Industri petrokimia hulu hingga hilir dan berhasil membukukan tingkat pertumbuhan sebesar 9,39 % pada 2020 dan 9,15% pada triwulan 2 tahun 2021.

TubanPetro yang bergerak di industri petrokimia hulu dan intermediate, mencatatkan pendapatan konsolidasi perusahaan mengalami kenaikan 29% sepanjang 2019 hingga 2021 dari Rp 3,44 triliun menjadi Rp 4,44 triliun.

Sedangkan, konsolidasi laba bersih naik menjadi Rp 771 miliar pada 2021 dari sebelumnya Rp 671 miliar pada 2019.

Kenaikan ini terjadi akibat meningkatnya harga jual komoditas yang diproduksi oleh anak usahanya, yaitu produk Polypropilene dari PT Polytama Propindo dan produk 2-Ethyl Hexanol  dari PT Petro Oxo Nusantara.

Selain membukukan kinerja finansial yang positif, selama tahun 2021 ini TubanPetro berhasil melakukan pembayaran dipercepat atas sisa Utang Multi-Years Bond yang tidak dikonversi kepada Kementerian Keuangan sebesar Rp 50 miliar sehingga total pembayaran utang tersebut pada tahun 2021 adalah Rp 66,5 mliliar.

Salah satu acuan pengembangan petrokimia nasional yaitu, Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Diharapkan, pada 2028 dapat mencapai tingkat produksi dalam negeri yang melampaui demand domestik sehingga menjadi net eksportir komoditas petrokimia.

Komoditas yang menjadi fokus pengembangan antara lain zat Olefin (Ethylene dan Propilene) yang ditargetkan mencapai kapasitas produksi domestik sebesar 7.730,2 KTA serta Polyolefin (Polyethylene dan Polypropilene) sebesar 6.836 KTA pada tahun 2030.

Dengan kepemilikan sahamnya oleh PT Pertamina (Persero) dan Pemerintah c.q. Kementerian KeuanganTubanPetro memperoleh peran strategis membantu kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri petrokimia nasional melalui sinergi dan kolaborasi dengan PT Pertamina (Persero), sehingga tercapai kondisi hilangnya ketergantungan impor komoditi petrokimia.

“Selanjutnya, mengurangi current account defisit, dan menjadi driver pertumbuhan PDB nasional dengan turut menjaga pasokan bahan baku untuk industri yang menggunakan produk turunan petrokimia existing maupun penambahan pelaku industri sehingga tercipta lapangan kerja baru dan konsekuensinya akan menambah pendapatan negara melalui penerimaan pajak dan dividen,” ucap Rionald Silaban dalam pernyataannya, Kamis(20/1/2022).

TubanPetro dengan desain awal pengembangan menjadi produsen petrokimia terintegrasi end-to-end dapat dioptimalkan sebagai vehicle Pertamina Grup dalam meningkatkan portofolio perusahaan dalam industri petrokimia hulu dan intermediate dengan pembentukan integrated petrochemical value chain yang juga terintegrasi dengan industri migas Pertamina.

Hal ini diharapkan sejalan dan membantu mewujudkan visi Pertamina untuk menjadi perusahaan global energi dan petrokimia terdepan dengan nilai pasar USD 100 Miliar.

Kata Rionald, pengembangan TubanPetro khususnya Project Olefin TPPI dan Integrated Polypropilene Plant 2 pada Polytama merupakan bentuk kontribusi terhadap Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

Tujuan pemerintah mengurangi ketergantungan impor kimia dasar hingga dibawah 30% pada tahun 2027 diharapkan dapat terwujud melalui peningkatan produksi zat olefin (Ethylene dan Propylene) yang merupakan target output dari proyek olefin TubanPetro.

Disampaikan Rionald, dari sisi korporasi, Rencana Jangka Panjang TubanPetro akan berlangsung dalam lingkup waktu yang lebih sempit dari RPIN, yaitu pada rentang 2021-2025.

Pada tahap awal yakni 2021- 2022, dilaksanakan penempatan investasi dan inisiatif strategis, pada tahap kedua, dilakukan proses konstruksi, pengembangan kapasitas dan rencana diversifikasi produk untuk mendukung pembentukan integrated petrochemical value chain pada 2023 – 2024.

Dengan masih tingginya tingkat ketidakpastian ekonomi global dan berbagai isu yang dapat timbul secara tiba-tiba termasuk persaingan usaha dengan pemain petrokimia lain, DJKN mengharapkan TubanPetro selalu alert, menjaga komitmen dan konsistensi guna tercapainya berbagai harapan shareholder.

Antara lain mewujudkan proyek terkait integrated petrochemical value chain, menjadi market leader, berkontribusi untuk penurunan defisit neraca dagang petrokimia nasional, meningkatkan nilai investasi pemegang saham.

“Karena itu, penting untuk selalu menjaga kesehatan perusahaan, membuat keputusan finansial dan aksi korporasi yang prudent, mempercepat proyek guna peningkatan kapasitas produksi, sekaligus meningkatkan operasional excellence,” tegas Rionald Silaban. (Willy Widianto)

Source : www.tribunnews.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here