Di Olimpiade Beijing, Xi dan Putin Berjuang Galang Persatuan Hadapi AS

0
126
Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin menjelang pembicaraan mereka di Beijing, China, Jumat, 4 Februari 2022. (Alexei Druzhinin, Sputnik, Kremlin Pool Foto via AP)
Advertisement

Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin China Xi Jinping, Jumat (4/2) bertemu menjelang upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2022, suatu unjuk persatuan di tengah-tengah hubungan masing-masing negara yang semakin rumit dengan AS.

Putin memuji hubungan China-Rusia yang “benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya,” yang menurutnya merupakan contoh dari “hubungan bermartabat yang membantu masing-masing kita berkembang,” kata kantor berita resmi Rusia Tass.

Putin mengumumkan kesepakatan baru untuk menyediakan gas 10 miliar meter kubik per tahun untuk China dari kawasan Timur Jauh Rusia. Para pejabat Rusia juga telah menyatakan kedua pemimpin itu akan menandatangani lebih dari 15 kesepakatan dalam kunjungan tersebut.

Pada 2021, kedua pihak mencapai perdagangan bilateral yang mencatat rekor baru, 146 miliar dolar. Putin mengatakan kepada Xi hari Jumat bahwa ia percaya perdagangan bilateral dalam waktu dekat dapat mencapai 200 miliar dolar.

Xi, yang melakukan pertemuan tatap muka pertamanya dengan seorang pemimpin dunia dalam waktu setahun lebih ini, mengatakan kepada Putin bahwa pertemuan itu akan menyuntikkan lebih banyak vitalitas ke dalam hubungan kedua negara, menurut media pemerintah China.

Meskipun Rusia dan China tidak memiliki aliansi resmi, kedua negara semakin dekat dalam beberapa tahun belakangan sementara mereka berupaya melawan pengaruh AS.

China telah semakin vokal dalam mendukung Rusia, bahkan ketika Moskow mengerahkan lebih dari 100 ribu tentara di perbatasannya dengan Ukraina, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai konflik. Rusia telah menuntut Ukraina agar tidak bergabung dengan NATO dan menginginkan aliansi militer itu menarik pasukannya dari Eropa Timur.

Para analis mengatakan kerja sama Rusia-China dapat mempersulit AS dalam menghukum Moskow dengan sanksi-sanksi atau langkah-langkah lain jika Rusia menginvasi Ukraina. Menjelang kunjungan Putin, para pejabat Rusia menyatakan kedua pemerintah berupaya menciptakan hubungan ekonomi yang terlindung dari sanksi-sanksi yang diberlakukan negara lain.

Meningkatnya permusuhan AS-Rusia juga dapat mengalihkan perhatian Presiden AS Joe Biden, yang telah mengidentifikasi China sebagai prioritas kebijakan luar negeri terbesarnya. Namun, China juga mungkin tidak menyambut baik adanya distraksi kebijakan luar negeri penting.

Beijing, Jumat (42) menjadi tuan rumah acara pembukaan pesta olahraga Olimpiade yang berlangsung lebih dari dua pekan. Yang mungkin lebih penting lagi, Xi berada di tengah-tengah musim manuver politik dalam negeri penting yang dimaksudkan untuk membentuk apa yang diperkirakan akan membuat kekuasaannya tidak terbatas atas China.

“Beijing menginginkan stabilitas dan kemampuan memprediksi. Mereka tidak akan menyambut baik pergolakan asing,” kata Ryan Hass, pakar China di Brookings Institution yang berbasis di AS, di Twitter.

Xi dan Putin, dua pemimpin kuat yang memimpin pemerintahan otoriter, memiliki riwayat panjang. Menurut Beijing, ini adalah pertemuan ke-38 antara kedua orang itu.

Pada Desember lalu, Xi mengatakan ia menyambut baik kunjungan Putin, yang ia sebut sebagai “teman lamanya.” Putin adalah pemimpin internasional pertama yang menyatakan akan hadir dalam acara pembukaan Olimpiade Beijing, setelah AS mengumumkan boikot diplomatik terhadap pesta olahraga itu terkait tuduhan pelecehan China terhadap Muslim Uighur.

Dalam surat yang dipublikasikan awal pekan ini di kantor berita resmi China Xinhua, Putin mengecam boikot yang dipimpin AS, mengecamnya sebagai “upaya sejumlah negara untuk mempolitisasi olahraga untuk kepentingan egois mereka.” Surat Putin juga menyatakan bahwa kemitraan Rusia-China telah memasuki “era baru.”

Rusia dan China telah memiliki riwayat panjang bekerja sama untuk memblokir posisi AS di Dewan Keamanan PBB, di mana ketiga negara itu memiliki hak veto sebagai anggota tetap dewan.

Yang paling baru adalah, China dan Rusia memiliki kesamaan sikap mengenai Ukraina. Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China menyebut tentang “kekhawatiran keamanan yang sah” dari Rusia dan menyerukan diakhirinya “mentalitas Perang Dingin,” rujukan jelas untuk apa yang dianggapnya sebagai kebijakan luar negeri AS.

“China telah bertindak semakin dekat secara progresif ke sikap Rusia,” kata Evan Feigenbaum, dari lembaga kajian Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di Washington.

Ini merupakan pergeseran besar dari China. Selama invasi Rusia ke Georgia tahun 2008 dan invasinya ke Krimea pada tahun 2014, China “condong begitu jauh dalam kemitraan mereka dengan Rusia,” kata Feigenbaum, berbicara pada sebuah forum online.

“Kemitraan China-Rusia terlihat sangat berbeda bagi Amerika, bukan hanya dalam perencanaan pertahanan tetapi juga pemikiran strategis yang dimilikinya enam atau tujuh tahun lalu saja,” ujarnya.

Namun, China juga menyerukan diredakannya ketegangan terkait Ukraina dan mengusulkan penerapan perjanjian Minsk, kesepakatan tahun 2014-2015 untuk memulihkan perdamaian setelah berkobarnya kekerasan di perbatasan Rusia-Ukraina.

“China berada dalam kebuntuan diplomatik,” kata Hass. “Negara ini akan menghadapi kesulitan dan gejolak yang tidak diinginkan dari konflik di Ukraina, tetapi pada saat yang bersamaan China ingin mempertahankan hubungan kuat dengan Rusia dan tidak ingin membantu AS.” [uh/ab]

source : www.voaindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here