Tema Hari Kanker Sedunia tahun ini adalah mengatasi kesenjangan akses dalam perawatan kanker. Terkait tema peringatan tahun ini, tantangan apa yang masih dihadapi untuk mengatasi kesenjangan perawatan kanker di Indonesia dan apa penyebab utamanya? Apa yang bisa dilakukan untuk mempersempit kesenjangan itu dan memberi akses lebih banyak kepada para pasien kanker? Dan bagaimana peran aktivis atau LSM kanker?

Hari Kanker Sedunia pertama kali ditetapkan pada World Cancer Summit tahun 2000 di Paris. Hari ini diperingati untuk meningkatkan kesadaran mengenai kanker dan untuk mendorong pencegahan, deteksi dini, perawatan serta pengobatan yang dilakukan terhadap semua jenis kanker yang sudah dikenali.

Indonesia sendiri masih tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus kanker tertinggi. Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, total kasus kanker di Indonesia pada 2020 mencapai 396.914 kasus dan total kematian sebesar 234.511 kasus.

Tahun ini, tema peringatan adalah Close the Care Gap. Endah Labati Silapurna, direktur Rumah Sakit Daerah Idaman Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjelaskan, “Tujuannya agar semua yang menderita kanker bisa mendapat perawatan yang sama, sehingga memperbesar kesempatan untuk sembuh dan menekan korban jiwa yang mungkin terjadi.”

Menurut data Globocan 2020, jumlah kasus baru kanker terbanyak di Indonesia ditempati oleh kanker payudara (16,6%), disusul oleh kanker mulut rahim (9,2%), kanker paru-paru (8,8%), kanker kolorektal (8,6%).

Peringatan hari kanker sekaligus membuat semua orang menyadari betapa banyaknya jenis kanker, kata Samantha Barbara, ketua Yayasan Daya Dara Indonesia (YDDI), organisasi yang berfokus pada kegiatan sosialisasi deteksi dini dan pendampingan bagi perempuan dengan kanker payudara.

Untuk kanker payudara saja, jelas Samantha, sekarang ini 1 dari 8 perempuan di dunia mempunyai risiko menjadi penderitanya. Mengutip data WHO, ia mengatakan, tanpa meningkatkan penyuluhan dan upaya-upaya pencegahan dini, maka pada tahun 2030 kemungkinan 1 dari 3 perempuan berisiko terjangkit kanker payudara. Itu sebabnya,

“Secara garis besar, kita ingin semua pasien mendapatkan akses ke informasi, akses ke fasilitas, dan akses untuk mendapatkan perawatan yang baik. Namun kalau kita bicara soal Indonesia, kita punya challenge juga,” tuturnya.

Tantangannya mencakup juga wilayah geografis Indonesia yang berupa kepulauan, yang menyulitkan penyediaan fasilitas maupun sumber daya dokter spesialis kanker dan spesialis lain yang terkait dengan perawatan kanker seperti patologi dan radiologi, jelas Samantha.

Layanan, baik berupa sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana yang berbeda-beda di tingkat pusat dan daerah memang merupakan masalah prinsip yang dihadapi, tambah Direktur RS Idaman yang biasa disapa Labaty itu. Aturan maupun regulasi yang berlaku juga turut memengaruhi kesenjangan ini. Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, ia juga mengakui sulitnya menyamakan atau menyeragamkan pelayanan yang terkendala lokasi, fasilitas dan daya ungkit masing-masing daerah.

Ia juga menyebut contoh mengenai distribusi dokter yang tidak merata di daerah.

“Kalau di Jawa, dokternya banyak, sarana prasarananya dari pusat juga lumayan banyak. Kebetulan saya di wilayah Indonesia bagian tengah, ini SDM-nya tidak terlalu banyak dikucurkan ke sini. Apalagi di bagian timur. Kalau bagian timur lebih sedikit lagi kelihatannya,” tambahnya.

Labaty juga mengkritisi kebijakan pemerintah berkenaan dengan pelayanan kanker. Menurutnya, regulasi pemerintah belum optimal, karena masih menekankan bahwa pelayanan kanker sebagian besar dirujukkan ke rumah sakit kelas A atau kelas B.

“Sebenarnya kalau kita bisa memberdayakan kelas di bawahnya, bukan hanya kelas A atau sebagian di B saja, itu gap-nya akan menjadi sempit. Jadi masyarakatnya bisa diuntungkan.”

Pasien tidak akan perlu terlalu lama menunggu jadwal pengobatan kalau pasien tidak harus dirujuk ke rumah sakit kelas A, misalnya. Ia mencontohkan rumah sakit yang dipimpinnya tergolong kelas C tetapi sudah bisa membantu pelayanan kanker. RSD Idaman memiliki antara lain dokter spesialis anak yang juga konsultan hemato onkologi (kanker darah), dokter spesialis bedah yang dapat mendeteksi kanker payudara, serta dokter kebidanan dan kandungan yang bisa mendeteksi kanker mulut rahim.

Peran kelompok pendukung

Samantha memaklumi bahwa beban pemerintah dalam mengatasi penyakit kanker cukup tinggi. Karena itu ia menyoroti pentingnya mengikutsertakan kelompok-kelompok pendukung dari kalangan pasien sendiri. YDDI, bekerja sama dengan para sponsor atau perusahaan, bergerak membantu pemerintah mengurangi beban itu dengan memberikan edukasi mengenai upaya pencegahan melalui deteksi dini.

Sebagai gambaran mengenai kurangnya edukasi deteksi dini, Labaty mengemukakan bahwa tak sedikit pasien kanker payudara yang datang ke rumah sakitnya didapati sudah dalam stadium lanjut.

Selama pandemi, kegiatan edukasi YDDI yang biasanya dilakukan dengan mendatangi berbagai komunitas ini berlangsung dengan cara yang lebih luas jangkauannya, melalui pertemuan virtual. YDDI memberdayakan para penyintas, yang telah selesai melewati perawatan dan mengikuti pelatihan bersertifikat, untuk memberikan edukasi tersebut.

“Kita bicara mengenai perjalanan kanker kita, faktanya, risikonya, apa yang harus dilakukan dan sebagainya,” katanya.

Dukungan moral dari orang-orang yang pernah mengalami sakit kanker dan menjalani pengobatannya juga sangat penting, karena membuat para pasien merasa tidak sendirian, jelasnya. Ribuan perempuan dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam komunitas YDDI di beberapa kota sejak yayasan itu berdiri pada tahun 2014, kini setiap hari bertukar informasi, berbagi dukungan melalui grup WA.

Yayasan ini juga memiliki program kerja sama dengan beberapa rumah sakit dan klinik, memberikan layanan USG gratis sebagai upaya deteksi dini untuk kalangan perempuan kurang mampu. Samantha, ia sendiri seorang penyintas kanker, ingin agar upaya menurunkan kanker payudara stadium lanjut terus bergaung.

Labaty yakin perubahan kebijakan pemerintah mengenai rujukan pasien kanker ke rumah sakit dapat membantu mengurangi kesenjangan sekarang ini, di samping memeratakan distribusi sumber daya manusia oleh pemerintah pusat.

Memperbanyak dokter onkologis juga menjadi harapan Samantha. Dengan menyiapkan program yang baik dan insentif yang menarik, pemerintah diharapkan dapat mendorong mahasiswa kedokteran menjadi spesialis kanker, lanjutnya. [uh/ab]

source : www.voaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *