Wanita yang Meninggal Bersama AKP Novandi: Fatimah, Anggota PSI Banjarmasin

0
63
Ilustrasi mobil terbakar. Foto: Witthaya Prasongsin/Getty Images
Advertisement

Identitas korban kedua dalam insiden kecelakaan mobil Camry yang menabrak separator Busway dan terbakar di kawasan Senen, Jakarta Pusat, terungkap. Ia adalah anggota perempuan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bernama Fatimah.

Jubir PSI Sigit Widodo membenarkan kabar tersebut. Fatimah atau yang akrab disapa Sis Zahra merupakan kader di Kota Banjarmasin.

“Kabar yang kami dapatkan dari DPD PSI Banjarmasin begitu,” kata Sigit saat dihubungi, Selasa (8/2).

“Almarhumah kader aktif di Kota Banjarmasin yang baru pindah ke Jakarta,” tambah dia.

Ia mengaku terkejut dengan meninggalnya Fatimah. Sebab almarhumah dikenal aktif di kepengurusan.

“Kami di DPP terkejut dan sedih mengingat DPD Kota Banjarmasin sering mengabarkan keaktivan almarhumah dalam kegiatan-kegiatan PSI. Tapi secara pribadi, saya tidak kenal,” kata Sigit.

Kabar meninggalnya Fatimah disampaikan pertama kali oleh Ketua Umum PSI Giring lewat Instagram pribadinya. Fatimah atau yang akrab disapa Sis Zahra adalah anggota pengurus DPD PSI Kota Banjarmasin.

“Turut berduka cita sedalam dalamnya. Mewakili DPP @psi_id , saya H. Giring Ganesha Djumaryo mendoakan agar almarhumah Sis Fatimah diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang di tinggalkan diberikan ketabahan serta kesabaran,” tulis Giring.

Fatimah tewas dalam kecelakaan tunggal bersama AKP Novandi Arya di Kawasan Senen, Jakarta Pusat, Senin (7/2). Mobil yang dikendarai korban menabrak separator Busway dan terbakar.

Korban yang terjebak dalam mobil tidak bisa menyelamatkan diri. Keduanya ditemukan tewas terbakar.

Polisi Masih Cek Lagi Kebenaran Identitas Wanita F

Polisi sudah sempat menyinggung wanita berinisial F yang identitasnya ditemukan di mobil Camry yang terbakar di Senen itu.

“Ya (ada kartu identitas nama F) itu kan berdasarkan bukti, identitas yang kita temukan di TKP (tempat kejadian perkara) tapi kan belum tentu itu,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo, kepada wartawan, Selasa (8/2).

Menurut Sambodo, bukti itu belum bisa memastikan identitas korban. Sebab kartu identitas tersebut bisa saja milik orang lain. Maka itu dibutuhkan identifikasi lebih lanjut terhadap jenazah korban.

“Karena belum tentu misalnya ada KTP, kartu pengenal dan sebagainya adalah milik orang yang meninggal tersebut, tentu ini nanti harus berdasarkan pemeriksaan dari DVI, ahli forensik. Ahli DVI akan menentukan orang tersebut adalah si A,” tambah Sambodo.

“Memang sudah ada beberapa keluarga yang datang untuk menyerahkan beberapa bukti yang mengaku sebagai keluarganya dan saat ini sedang dalam proses identifikasi pengambilan DNA dan sebagainya,” pungkas Sambodo.

source : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here