Penggilingan dagingdinilai jadi sumber utama banyaknya produk olahan makanan di Jogja, mulai dari bakso, rolade, sosis, dan sebagainya terkontaminasi daging babi. Pasalnya, banyak tempat penggilingan yang melakukan penggilingan secara campur antara daging babi dengan daging lainnya seperti sapi, ayam, atau kambing.

Karena itu, Direktur Halal Center Fakultas Peternakan UGM sekaligus Auditor Halal LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nanung Danar Dono, meminta supaya tempat-tempat penggilingan daging di Jogja bisa lebih tertib.

Salah satu upaya penertiban yang bisa dilakukan menurut dia adalah dengan memetakan atau mengelompokan tempat penggilingan daging babi di satu atau beberapa tempat saja.

Pemetaan seperti itu akan membuat masyarakat lebih mudah mengidentifikasi tempat-tempat penggilingan, mana yang terbebas dari daging babi dan mana yang memang digunakan juga untuk menggiling daging babi. Jika perlu, penggilingan-penggilingan daging lain juga mesti tersertifikasi halal dan diaudit setiap saat.

“Susahnya sekarang tidak ada aturan bahwa penggilingan daging babi di Jogja itu hanya di mana, kalau dulu sempat dikumpulkan hanya di Pasar Pathuk saja, tapi sekarang sudah menyebar lagi ke mana-mana,” kata Nanung Danar Dono, ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (15/2).

Jadi Sumber Kontaminasi Babi, Penggilingan Daging di Jogja Diminta Lebih Tertib (1)
Direktur Halal Center Fakultas Peternakan UGM sekaligus Auditor Halal LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Nanung Danar Dono

Penataan penggilingan ini jadi penting, karena disinyalir kuat jadi penyebab warung-warung makan, seperti warung bakso di Jogja terkontaminasi daging babi karena melakukan penggilingan daging di tempat yang juga menggiling daging babi.

Nanung mengaku pernah menemukan ada sejumlah tempat penggilingan daging di pasar-pasar tradisional di Jogja, bahkan termasuk pasar-pasar utama, yang melakukan pencampuran dengan daging babi. Nanung mengaku pernah menemukan kasus tersebut di Pasar Beringharjo, Yogyakarta pada akhir 2019.

Saat itu, Nanung masih jadi pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY. Pada sebuah kesempatan, MES DIY ingin mendorong Pasar Beringharjo jadi pasar halal. Dalam sebuah pertemuan dengan pengurus pasar, Nanung menyampaikan bahwa salah satu kendala menjadikan Pasar Beringharjo sebagai pasar halal adalah banyaknya informasi dari masyarakat yang mengatakan bahwa ada beberapa penggilingan daging di Pasar Beringharjo yang melakukan penggilingan percampuran antara daging sapi dengan babi.

“Di luar dugaan saya, ternyata pengurus pasar mengatakan bahwa memang ada (penggilingan) yang campur,” ujarnya.

Jika di Pasar Beringharjo hanya beberapa yang melakukan pencampuran penggilingan, di Pasar Pathuk, Yogyakarta, bahkan tidak ada yang tidak campur. Artinya, semua penggilingan daging di Pasar Pathuk menurut Nanung pasti campur, baik itu daging babi, sapi, dan yang lainnya.

“Jadi kalau ada pengusaha bakso, rolade, sosis, spageti, dan segala yang digiling, kemudian digilingnya di Pasar Pathuk, itu pasti campur babi,” lanjutnya.

Nanung memastikan bahwa mesin penggilingan daging digunakan untuk menggiling daging babi, kemudian digunakan untuk menggiling daging lain seperti sapi atau ayam, pasti daging tersebut akan terkontaminasi daging babi. Sebab, tidak mungkin pemilik mesin penggilingan akan secara rutin membersihkan mesinnya sebanyak tujuh kali pakai air dan salah satunya pakai tanah, setiap selesai menggiling daging babi, seperti yang ada dalam syariat Islam.

Penggilingan-penggilingan daging campur tersebut menurut Nanung jadi salah satu penyebab banyaknya warung-warung makan, terutama warung bakso di Jogja yang turut terkontaminasi daging babi. Meskipun daging yang mereka giling murni daging sapi, tapi karena mesin penggilingnya juga dipakai untuk menggiling daging babi, maka daging sapi tersebut juga ikut terkontaminasi daging babi.

Jadi Sumber Kontaminasi Babi, Penggilingan Daging di Jogja Diminta Lebih Tertib (2)
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Yuny Erwanto. Foto: Dok. Fakultas Peternakan UGM

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM yang aktif meneliti kontaminasi daging babi di warung-warung makan di Jogja, Yuny Erwanto, mengatakan bahwa mesin penggilingan campur memang jadi salah satu penyebab yang mengontaminasi warung-warung makan di Jogja dengan daging babi. Penelitian yang dia lakukan di pada 2013 silam, dari 20 sampel warung bakso yang dia teliti, 8 di antaranya positif terkontaminasi oleh babi.

“Ada kemungkinan kalau pedagang tidak tahu tempat penggilingan itu juga digunakan untuk menggiling daging babi,” kata Yuny Erwanto.

Namun secara logika, mestinya pedagang tersebut juga memahami bahwa tempat tersebut juga dipakai untuk menggiling daging babi. Mengingat sebagai pedagang pasti dia nyaris setiap hari menggiling daging di situ sehingga kurang masuk akal jika mereka tidak tahu.

“Tapi karena mungkin malas untuk pindah tempat, yang penting murah, akhirnya tetap menggiling di situ, toh pembeli yang makan juga tidak tahu,” ujarnya.

source : www.kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *