Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK) dalam sidang khusus memutuskan untuk memberikan rekomendasi ke PB IDI agar memberhentikan secara permanen Dr. dr. Terawan Agus Putranto. Hal ini disampaikan setelah adanya muktamar IDI di Aceh, Jumat (25/3).

“Memutuskan, menetapkan, meneruskan hasil sidang khusus MKEK yang memutuskan memberhentikan tetap rekan Dr. dr. Terawan Agus Putranto sebagai anggota IDI,” kata ketua presidium sidang, Abdul Azis, dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (28/3).

Abdul Azis mengatakan, proses pemecatan akan dilakukan oleh Pengurus Besar IDI paling lambat 28 hari kerja.

“Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan,” tambahnya.

Rekomendasi MKEK ini terkait dengan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) atau lebih dikenal sebagai ‘cuci otak’. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Hasan Machfoed, mengatakan alat yang digunakan Terawan dalam melakukan terapi cuci otak, Digital Subscription Angiography (DSA), sesungguhnya tidak berfungsi untuk menyembuhkan penyakit, tapi merupakan diagnosis.

Ia mengibaratkan DSA seperti rontgen yang biasa digunakan untuk memeriksa kondisi paru-paru seseorang. Namun, ujar Hasan, Terawan mengalihfungsikan DSA yang sebetulnya alat diagnosis, menjadi alat terapi, bahkan alat pencegahan penyakit.

Metode ‘Cuci Otak’ ala Terawan

Mengungkap Rencana Pemecatan Terawan dan Metode ‘Cuci Otak’ yang Kontroversial (1)
Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2021). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Terawan sudah mulai memperkenalkan metode ‘Cuci Otak’ pada Sidang Promosi Doktor pada Agustus 2016 lalu. Metode ini ditujukan untuk membantu para penderita stroke, khususnya stroke jenis iskemik.

Metode ‘Cuci Otak’ yang dimaksud yaitu Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) atau penyemprotan heparin (cairan penangkal penggumpalan darah) ke otak melalui pembuluh darah dengan menggunakan Digital Subtraction Angiography (DSA).

Bali Medical Journal juga telah mempublikasikan jurnal ilmiah tulisan Terawan dan rekannya, yang berjudul Intra Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient.

Dalam jurnal ilmiahnya, dijelaskan bahwa metode IAHF atau ‘Cuci Otak’ digunakan untuk pengobatan stroke jenis iskemik dan tidak menyebutkan jenis stroke lainnya. Stroke iskemik bisa muncul jika terjadi penyumbatan di cabang pembuluh darah yang biasanya disebabkan oleh kolesterol dan racun dalam tubuh seperti radikal bebas.

Terawan menjelaskan bahwa ia telah melakukan manual muscle test (MMT) atau tes peningkatan kontraksi otot sebelum dan sesudah pasiennya melakukan ‘Cuci Otak’. Kemudian ia melihat peningkatan skor pada beberapa sampel dan menyimpulkan bahwa metode ‘Cuci Otak’ nya memiliki efek signifikan pada pasien dengan stroke iskemik.

Pada tahun 2018, Terawan sudah menjalankan praktiknya di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Adapun alur tindakan ‘Cuci Otak’ atau DSA yang sempat terpampang selembar kertas di RSPAD Gatot Subroto pada tahun 2018 lalu, yaitu:

  • Mendaftar di poliklinik untuk konsultasi dengan dr. Terawan dan tim
  • Pemeriksaan MRI dan konsultasi spesialis radiologi & intervensi
  • Konsultasi spesialis saraf & brain mapping
  • Penjadwalan tindakan DSA/Brain Wash

Selain itu prosedur DSA Terawan memiliki beberapa tahap. Pertama, dokter akan melakukan diagnosis menggunakan DSA. Selang kecil yang disebut kateter dimasukkan ke dalam pembuluh nadi melalui pangkal paha. Dari selang ini dialirkan cairan kontras untuk memperlihatkan dengan jelas kondisi pembuluh darah, misal melihat lokasi yang tersumbat.

Kedua, cairan heparin disemprotkan ke arteri otak (karotis dan vertebralis) di bagian kiri dan kanan melalui pembuluh darah. Heparin diyakini Terawan dapat menghilangkan atau menghancurkan bekuan yang menyumbat aliran darah yang berpotensi menyebabkan stroke.

Mengungkap Rencana Pemecatan Terawan dan Metode ‘Cuci Otak’ yang Kontroversial (2)
Depan Ruang cuci otak Terawan Foto: Johanes Hutabarat/kumparan

Menurut Terawan, setelah bekuan tersebut hancur, maka aliran darah akan lancar dan kekuatan gerak otot-otot meningkat.

Digital Subscription Angiography (DSA) sebenarnya bukan inovasi baru. Dunia kedokteran Barat yang pertama memperkenalkannya sebagai cara diagnosis.

Menurut data terakhir April 2018, harga yang diberikan untuk tindakan ‘Cuci Otak’ atau DSA di rumah sakit umum seperti RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, biasanya gratis untuk pasien BPJS.

Sedangkan di rumah sakit swasta bisa memakan biaya Rp 15-25 juta dan di RSPAD Gatot Soebroto yang dikepalai Terawan pada saat itu, DSA memakan biaya paling sedikit Rp 30 juta. Saat ini disebut sudah naik, biayanya bisa mencapai Rp 50 juta.

Beberapa tokoh penting di Indonesia juga disebut-sebut menjadi pasien dari praktik ‘Cuci Otak’ Terawan, yaitu Aburizal Bakrie, Try Sutrisno, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), AM Hendropriyono, Butet Kartaredjasa, sejumlah politikus yang duduk di Senayan, dan masih banyak lagi.

Tanggapan Menkes

Rekomendasi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) untuk memecat permanen Terawan Agus Putranto dari keanggotaan IDI telah sampai ke telinga Menkes Budi Gunadi Sadikin. Budi memastikan akan membantu memediasi kedua belah pihak.

“Kemenkes akan membantu proses mediasi antara IDI dan anggotanya agar komunikasinya baik sehingga situasinya kondusif. Dan kita bisa kembali menyalurkan energi, waktu, dan dedikasi untuk membangun masyarakat yang lebih baik,” kata Budi dalam jumpa pers virtual bertema “Dinamika Profesi Kedokteran”, Senin (28/3).

Budi memahami bahwa IDI punya pandangannya sendiri terkait status anggotanya. Termasuk dalam kasus mantan Menkes Terawan Agus Putranto.

Ia tahu UU Profesi Kedokteran tahun 2004 telah memberikan amanah yang besar terhadap IDI. Yakni sebagai salah satu organisasi profesi untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anggotanya.

Namun, Budi menegaskan bahwa fokus saat ini harusnya untuk transisi dari pandemi ke endemi COVID-19. Setelahnya pun masih banyak persoalan yang membutuhkan tenaga para ahli kesehatan.

“Masih banyak PR yang harus diselesaikan bersama pascapandemi ini. Kita harus berpikir, mengarahkan energi untuk masyarakat sehat. Permasalahan stunting, angka kematian ibu, kematian bayi, menurunkan prevalensi diabetes dan hipertensi, penyakit menular TBC-malaria-HIV yang mesti diselesaikan,” jelas Budi yang merupakan sarjana fisika nuklir dari ITB ini.

Sourcce : www.kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *