Menteri ESDM Ingatkan Sopir Truk: Bilang Sama Bos, Jangan Pakai Solar Subsidi!

0
91
Menteri ESDM Arifin Tasrif sidak di SPBU 64.751.17 di Jl. Sentosa, Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur bersama Dirut Pertamina Nicke Widyawati untuk memastikan ketersediaan pasokan BBM, Kamis (7/4/2022). Foto: Dok. Istimewa
Advertisement

Saat meninjau SPBU 11209108 Rest Area KM 65A di Kabupaten Deli Serdang pada Sabtu (9/4) lalu, Menteri ESDM Arifin Tasrif berbincang dengan Daf, sopir truk yang membawa air mineral dari Binjai ke kota Padang, Arifin memberikan pemahaman bahwa BBM subsidi hanya untuk masyarakat yang berhak.

Ia berpesan kepada Daf agar menyampaikan pada pemilik truk bahwa harusnya truk menggunakan BBM nonsubsidi, yaitu Pertadex.

“Bilang sama Bos, harusnya jangan pakai Biosolar, tapi pakai Pertadex,” ucap Arifin seperti dikutip dari laman Kementerian ESDM, Selasa (12/4).

Menanggapi hal tersebut, Daf pun mengungkapkan bahwa dirinya hanya dibekali uang BBM untuk jenis biosolar. Ia mengaku sedikitnya tiga kali mengisi solar dengan jumlah masing-masing 100 liter, yaitu di Serdang Bedagai, Balige, Padangsidempuan, sebelum akhirnya kembali diisi setibanya di Padang.

Menteri ESDM Ingatkan Sopir Truk: Bilang Sama Bos, Jangan Pakai Solar Subsidi! (1)
Dirut Pertamina Nicke Widyawati tinjau SPBU di Kalimantan. Foto: Pertamina

Menurutnya, antrean kendaraan yang mengisi BBM kerap terjadi di wilayah Balige, hingga 2 jam lamanya. Tidak jarang setelah antre, dirinya tidak mendapatkan BBM sehingga harus membeli di pengecer dengan harga mencapai Rp 7.500 per liter.

“Biasanya di SPBU Rp 5.150, kalau di pengecer Rp 7.500, tapi masih bisa dapat barangnya (solar),” ujar Daf.

Pada kesempatan yang sama, Arifin juga mengingatkan keluarga yang sedang menggunakan mobil sewaan agar jangan menggunakan solar subsidi.

Arifin pun mendapati mobil pribadi jenis Sport Utility Vehicle (SUV), Multi Purpose Vehicle (MPV), dan truk industri/pengangkut hasil pertanian yang mengisi BBM jenis Biosolar. Setiap SPBU diharapkan melakukan kegiatan promosi BBM non subsidi dengan baik, agar masyarakat menggunakan BBM nonsubsidi.

“Pemerintah mengalokasikan solar subsidi untuk masyarakat yang perlu dibantu, bukan untuk industri-industri yang melakukan bisnis yang komersial. Kita mengimbau, industri yang masih menggunakan solar subsidi, ganti pakai BBM yang tidak bersubsidi. Supaya tidak mengurangi jatah masyarakat yang berhak mendapatkan alokasi BBM subsidi,” tegas Arifin.

Dia menjelaskan perlunya pembatasan penggunaan solar subsidi. Sebab, harga minyak dunia masih terus meningkat dan suplai sulit.

“Kalau tidak bisa kita displinkan akan menyebabkan jumlah subsidi dan kompensasi Pemerintah akan besar. Setiap kenaikan USD 1 per barel harga minyak bumi, memberikan dampak tambahan beban sebanyak Rp 5,7 triliun. Harga minyak sekarang sudah di atas USD 100 per barel, sedangkan patokan dalam APBN sekitar USD 60 per barel, jadi kurang lebih USD 40 dikalikan saja. Kita minta pengertian dari seluruh pihak, yang bukan haknya mengambil BBM subsidi, beli BBM tidak bersubsidi. Kita ingin anggaran subsidi bisa dipakai untuk menumbuhkan perekonomian,” tutupnya.

Sourcce : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here