Populer: Pertalite dan Pertamax Bakal Dihapus; Maju Mundur Beli Minyak Rusia

0
7
Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU. Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/ kumparan
Advertisement

Pemerintah didesak menghapus produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92), karena kedua produk BBM ini memiliki nilai oktan atau Research Octane Number (RON) rendah, sehingga sudah seharusnya diganti dengan yang lebih tinggi menjadi berita populer sepanjang Jumat (16/9).

Tak hanya itu, ada juga kabar mengenai rencana pemerintah yang belum terealisasi untuk membeli minyak mentah dari Rusia. Berikut rangkuman berita populer di kumparanBISNIS.

Pertalite dan Pertamax Bakal Dihapus

Menteri ESDM Arifin Tasrif buka suara mengenai ramai kabar soal BBM RON 90 dan RON 92 setara Pertalite dan Pertamax akan dihapus, menyusul dilarangnya peredaran BBM RON 88 (Premium) dan BBM RON 89 (Revvo 89) per 1 Januari 2023.

Menurut Arifin pemerintah memang sudah memiliki rencana untuk menghapus BBM RON 90 dan 92 sesuai dengan peta jalan energi bersih. Aturannya mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, kategori N, dan kategori O.

“Memang kita sudah punya roadmap tentang itu (penghapusan BBM RON 90 dan 92). Cuma pelaksanaannya dilakukan berangsur (bertahap), jangan sampai kaget,” kata Arifin saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/9).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Alasan penghapusan BBM tersebut, kata Arifin, agar emisi karbon dari kendaraan bisa berkurang dan udara lebih bersih. Di sisi lain, Indonesia juga sudah ketinggalan dibandingkan negara lain yang sudah menggunakan BBM standar Euro 4 dan Euro 5 yaitu BBM RON 95 ke atas. Di SPBU Pertamina, BBM RON 95 setara Pertamax Turbo.

Maju Mundur Beli Minyak Rusia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menjelaskan kembali rencana pemerintah membeli minyak murah dari Rusia melalui PT Pertamina (Persero).

Arifin mengakui jika pemerintah memang akan membeli minyak murah dari negara yang sedang berkonflik tersebut. Namun sayangnya belum terealisasi karena permintaan yang terlampau tinggi dari negara lain.

“Belum ada yang kebeli karena barangnya belum ada. Kalau ada minyak murah dari mana aja ya dibeli dong,” kata Arifin saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (16/9).

Meski demikian, Arifin mengakui jika terdapat konsekuensi dari keputusan membeli minyak murah dari Rusia ini, yaitu berupa sanksi atau peringatan dari negara maju, terutama anggota G7.

“Wah ada (sanksi), nah itu yang harus diperhatikan juga. Bukan Amerika saja, G7+. Tapi ini belum ada barangnya,” pungkasnya.

Source  : www.kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here