Qatar —  Warga Muslim mendukung keputusan pemerintah Qatar pada hari Jumat (18/11) yang melarang penjualan bir di stadion-stadion sepak bola. Keputusan ini dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum dimulainya Piala Dunia di negara Islam itu.

Ketika warga menghadiri salat Jumat (18/11) di sebuah masjid di bagian tengah Doha, mereka ikut mengomentari dan mendukung keputusan pemerintah itu.

Seorang warga Tunisia yang kini tinggal di Qatar, Ahmed bin Ali, mengatakan, “Kita harus mengikuti aturan. Tidak peduli kamu setuju atau tidak. Karena ketika saya pergi ke Prancis, atau bahkan ke Amerika, saya mengikuti aturan yang ada di sana. Meskipun saya punya pandangan atau pemikiran berbeda tentang suatu hal, saya tetap mengikuti aturan negara yang bersangkutan. Ini persis apa yang diminta Qatar pada mereka (warga asing) yang datang.”

Hal senada disampaikan Usman Jawad, seorang dokter asal Pakistan yang kini bekerja di Qatar.

“Saya kira kita perlu menghormati cara pandang negara tuan rumah karena setiap negara memiliki budaya tertentu. Saya kira penonton datang untuk melihat pertandingan olahraga ini dan seharusnya mereka fokus pada hal itu. Jika tuan rumah mengatakan sesuatu, mereka yang datang harus menghormati pandangan dan budaya negara bersangkutan,” ujarnya.

Penyelenggara Piala Dunia mengatakan mereka akan melarang penjualan semua bir beralkohol di delapan stadion yang digunakan sebagai lokasi turnamen sepak bola, demikian ujar seorang pejabat yang mengetahui keputusan tersebut kepada Associated Press. Ia berbicara dengan syarat anonim karena penyelenggara belum mengumumkan keputusan tersebut.

Keputusan diambil hanya dua hari sebelum pertandingan sepak bola dimulai hari Minggu nanti (20/11).

Bir non-alkohol masih akan tetap tersedia untuk para penggemar di 64 pertandingan, tambah pejabat itu.

Pemandangan dari dalam Stadion Al Thumama di Doha, Qatar, yang akan menjadi salah satu stadion Piala Dunia FIFA 2022 (Foto: AP/Hussein Sayed)

Mohammad Ali, usia 50, dokter dari Sheffield, Inggris, yang kini tinggal di Qatar, mengatakan ikut mendukung keputusan tersebut karena “saya tidak ingin anak-anak saya dan keluarga berhadapan dengan seorang pemabuk ketika sedang menikmati waktu kami di luar rumah. Saya tidak mengatakan hooligan yaa, tetapi orang mabuk atau fans yang tidak bisa diatur.”

Perusahaan induk Budweiser, AB InBev, telah membayar puluhan juta dolar di setiap Piala Dunia untuk hak eksklusif menjual bir. Kemitraan perusahaan itu dengan FIFA telah dimulai sejak turnamen tahun 1986.

Ketika Qatar mengajukan permohonan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, negara itu setuju untuk menghormati mitra-mitra komersial (sponsor) FIFA, dan sekali lagi ketika menandatangani kontrak setelah memenangkan pemungutan suara pada tahun 2010.

Saat penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2014 di Brasil, negara tuan rumah terpaksa mengubah aturan hukum yang mengizinkan penjualan alkohol di stadion-stadion. [em/pp]

Source : https://www.voaindonesia.com

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *