Pasukan Israel menghancurkan sebuah sekolah dasar Palestina di Desa Isfey al-Fauqa di wilayah Masafer Yatta di Tepi Barat yang diduduki pada Rabu (23/11). Penduduk di wilayah ini menghadapi ancaman penggusuran paksa yang terus berlanjut.

Menurut Norwegian Refugee Council, Pengadilan Tinggi Israel mencabut perintah sementara yang menunda pembongkaran.

Penduduk dan pejabat mengatakan, tentara kemudian segera menyerbu daerah itu dan membongkar sekolah di hari yang sama.

“Pasukan pendudukan Israel menghancurkan sebuah sekolah saat kelas sedang berlangsung dan para siswa berada di dalamnya,” terang kepala dewan lokal Masafer Yatta, Nidal Younis, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (24/11).

“Mereka menggunakan bom suara untuk menakut-nakuti anak-anak dan mengeluarkan mereka dari sekolah,” tambahnya.

Lembaga pendidikan tersebut baru dibangun sekitar sebulan yang lalu, serta berjalan kurang dari dua pekan terakhir.

“Pembangunan sekolah Isfey belum selesai saat dibongkar, tetapi sekolah tersebut sudah beroperasi,” jelas koordinator Komite Perlindungan dan Ketahanan Pegunungan Hebron Selatan dan Masafer Yatta, Fadi Al-Umour.

Siswa Palestina berjalan dalam perjalanan ke sekolah, di Masafer Yatta dekat Hebron di Tepi Barat. Foto: Mussa Qawasma/REUTERS

Sekolah itu mendidik 22 murid hingga kelas lima dari empat desa berbeda di Masafer Yatta. Desa-desa tersebut adalah Tuba, Isfey al-Fauqa, Isfey al-Tahta, dan Mughayyer al-Adeed.

Al-Umour mengatakan, sekolah lain yang berjarak paling dekat dengan desa-desa itu berada sekitar empat kilometer jauhnya.

Aktivis tersebut menambahkan, tentara menyita furnitur dari sekolah tersebut selama pembongkaran, termasuk kursi-kursi kelas.

“Pendudukan ini menargetkan segalanya—menargetkan rumah, pendidikan kami, air, panel surya kami,” ungkap Younis.

“Mereka pikir ini akan menekan orang untuk pergi sehingga mereka dapat menggusur kami, sehingga mereka dapat membersihkan Masafer Yatta secara etnis,” lanjut dia.

Kabar mengenai pembongkaran ini telah dikonfirmasi Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT). Badan militer Israel tersebut mengatur administrasi di Tepi Barat yang diduduki.

COGAT mengatakan, pihaknya menghancurkan bangunan ilegal di area yang ditetapkan sebagai zona tembak tertutup.

Sekolah itu merupakan salah satu dari belasan sekolah yang dibangun di Tepi Barat yang diduduki melalui program Kementerian Pendidikan Palestina. Uni Eropa menyalurkan dana untuk program tersebut.

Siswa Palestina meninggalkan sebuah rumah dalam perjalanan mereka ke sekolah, di Masafer Yatta dekat Hebron di Tepi Barat. Foto: Mussa Qawasma/REUTERS

Semua sekolah yang dibangun sebagai bagian dari proyek ini berlokasi di Area C, yakni 60 persen dari wilayah Tepi Barat yang diduduki yang berada di bawah kendali penuh militer Israel.

Program itu dimaksudkan untuk menentang pembatasan Israel atas pembangunan Palestina di sana. Masafer Yatta yang merupakan wilayah selatan Hebron juga jatuh dalam Area C.

Delapan desa yang menaungi 1.200 warga Palestina, termasuk 500 anak-anak, menghadapi penggusuran oleh otoritas Israel di Hebron.

Situasi ini berakar dari putusan Pengadilan Tinggi Israel pada Mei 2022. Putusan tersebut mengakhiri pertempuran hukum para warga terhadap penggusuran mereka selama lebih dari dua dekade.

Banyak keluarga sudah tinggal di wilayah tersebut bahkan sebelum pendudukan Israel di Tepi Barat sejak 1967.

Mereka mencari nafkah sebagai penggembala dan petani, tetapi menghadapi segudang kebijakan yang menindas dari militer Israel.

Pasukan Israel berjaga di sekitar sebuah bangunan yang dihancurkan oleh buldoser tentara di Hebron, Palestina, Senin (31/10/2022). Foto: Hazem Bader/AFP

Kebijakan itu meliputi pembatasan pemeliharaan dan pengembangan rumah mereka, serta hambatan untuk mengakses jaringan listrik dan jaringan air. Kini, otoritas bisa mengusir mereka kapan saja dengan dalih bahwa mereka tinggal ‘zona tembak’ tentara Israel.

Penduduk setempat juga dikelilingi pemukiman ilegal Israel. Mereka hidup di bawah kekerasan polisi, tentara, dan pemukim Israel.

Delegasi Uni Eropa untuk Palestina mengaku terkejut dengan berita pembongkaran sekolah dasar di wilayah tersebut.

Kementerian Pendidikan Palestina baru merencanakan kunjungan diplomat dan pejabat PBB ke sekolah ini sehari sebelum pembongkaran. Pihaknya mengutuk tindakan tersebut dalam sebuah pernyataan yang menggambarkannya sebagai kejahatan keji.

“Ini adalah tambahan dari rangkaian kejahatan yang sedang berlangsung oleh pendudukan terhadap sektor pendidikan, dan penargetan anak-anak, siswa, kader pendidikan, dan institusi tanpa memperhatikan piagam dan hukum internasional,” tulis pernyataan itu.

Source : https://kumparan.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *