BerandaInternasionalRamai Kecaman Terhadap Taliban yang Larang Perempuan Kuliah

Ramai Kecaman Terhadap Taliban yang Larang Perempuan Kuliah

Taliban melarang mahasiswa perempuan masuk hingga mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Aturan itu berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Keputusan Taliban ini memicu kemarahan dunia. Kecaman datang negara-negara Barat hingga PBB termasuk Indonesia.

Surat pelarangan perempuan masuk ke universitas diungkap oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan pada Selasa (21/12). Larangan tersebut berlaku bagi universitas negeri dan swasta sesegera mungkin.

Pengumuman tersebut disampaikan bertepatan dengan pertemuan Dewan Keamanan PBB terkait Afghanistan yang digelar di New York.

Siswa perempuan Afghanistan tiba untuk ujian masuk di Universitas Kabul, Afghanistan. Foto: Wakil Kohsar/AFP

Pada 2022, tercatat Taliban sudah dua kali mengambil langkah ekstrem untuk menutup akses pendidikan bagi perempuan. Maret lalu, Taliban melarang perempuan mengenyam pendidikan di SMA.

Apa yang dilakukan Taliban saat ini berbanding jauh dengan janji ketika mereka kembali merebut kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021. Kala itu, Taliban berjanji akan menghormati hak perempuan terutama di bidang pendidikan.

Karena pelarangan janji-janji, khususnya terhadap hak perempuan, Pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban sampai sekarang belum mendapat pengakuan dunia.

Oleh sebab itu, bantuan-bantuan kemanusiaan internasional yang dibutuhkan warga Afghanistan belum bisa diberikan.

Mahasiswa perempuan Afghanistan dihentikan oleh petugas keamanan Taliban yang berdiri di samping sebuah universitas di Kabul, Afghanistan. Foto: Wakil Kohsar/AFP

Kuliah Dilarang Taliban, Mahasiswi Afghanistan Menangis

Rekaman video di media sosial menunjukkan, sekelompok mahasiswi berjilbab datang ke kampus. Namun mereka dihalangi dan diusir oleh para aparat keamanan Taliban. Beberapa di antara mereka terlihat menangis saat dibawa menjauh dari kampusnya.

Perempuan Afghanistan semula berharap dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi dibandingkan keluarganya yang dulu berada di bawah rezim ketat Taliban era 1996-2001 — ketika Taliban pertama kali berkuasa dan perempuan tidak bisa bekerja ataupun belajar.

Namun, kini sebaliknya — harapan demi memiliki kehidupan lebih baik itu pupus.

“Mereka telah menghancurkan satu-satunya jembatan yang dapat menghubungkan saya dengan masa depan saya,” kata salah seorang mahasiswi Universitas Kabul.

Namun, pada pekan ini, pemerintah memberlakukan pembatasan yang lebih ketat dengan melarang para mahasiswi menempuh pendidikan tinggi — menutup semua akses ke pendidikan formal bagi perempuan.

“Bagaimana saya bisa menanggapinya? Saya percaya bahwa saya bisa belajar dan mengubah masa depan saya atau membawa cahaya bagi hidup saya tetapi mereka menghancurkannya,” ucap dia.

Mahasiswa Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer menghadiri upacara wisuda mereka di Universitas Benawa di Kandahar, Afghanistan. Foto: JAVED TANVEER/AFP

Indonesia Kecewa Taliban Larang Perempuan Afghanistan Kuliah

Kemlu RI prihatin dan mengecam keputusan Taliban yang melarang perempuan Afghanistan untuk kuliah.

“Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam dan kekecewaannya atas keputusan Taliban yang menangguhkan akses pendidikan ke universitas bagi perempuan Afghanistan,” kata Kemlu RI.

Bersama pernyataan tersebut, Kemlu RI menegaskan bahwa memperoleh pendidikan adalah hak setiap individu, terlepas dari jenis kelamin seseorang. Oleh karenanya, Indonesia mendesak Taliban untuk membuka akses pendidikan bagi siapa pun warga Afghanistan.

“Indonesia sangat yakin bahwa partisipasi perempuan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Afghanistan sangat penting bagi terwujudnya Afghanistan yang damai, stabil, dan sejahtera,” jelas Kemlu RI.

Ilustrasi wanita Afghanistan. Foto: Shutterstock

Turki Kecam Taliban Larang Perempuan Kuliah

Sementara Turki menggambarkan keputusan Taliban untuk melarang perempuan Afghanistan menempuh pendidikan di universitas sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Larangan tersebut telah mengundang kecaman global. Salah satunya datang dari Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

“Larangan ini tidak Islami atau manusiawi. Kami merasa ini tidak benar. Insyaallah, [Taliban] akan membatalkan keputusan ini,” tegas Cavusoglu.

“Apa ruginya pendidikan perempuan terhadap kemanusiaan?” tanya dia

Infografik 7 Aturan Baru Taliban soal Perempuan. Foto: kumparan

Tidak Sesuai dengan Ajaran Islam

Kekecewaan atas larangan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi ini juga dialami oleh salah seorang mahasiswi pascasarjana jurusan hukum syariah di Kabul. Masa kuliahnya telah berakhir selama liburan musim dingin dan baru akan dimulai kembali pada Maret 2023.

Namun, dengan diberlakukannya larangan terbaru itu — tampaknya ia sudah tidak diizinkan untuk kembali menapakkan kakinya di kampusnya sendiri. Dan sebagai sosok yang memahami hukum, mahasiswi itu menegaskan bahwa tindakan Taliban tidak sesuai dengan ajaran Islam.

“Taliban telah mengambil hak-hak yang diberikan Islam dan Allah kepada kita,” kata mahasiswi yang namanya dirahasiakan.

“Mereka harus pergi ke negara-negara Islam lainnya dan melihat bahwa tindakan mereka tidak Islami. Menurut apa yang mereka katakan ini adalah Syariah. Tapi mengapa mereka ingin mempraktekkannya hanya pada wanita? Mengapa mereka tidak menerapkannya pada pria?” tanya dia.

Pendapat ini pun didukung oleh ulama agama lain. Salah satunya ialah Nawida Khurasani, salah satu dari sedikit ulama perempuan Afghanistan yang kini menetap di Kanada. Ia berpendapat, keputusan Taliban untuk membatasi akses pendidikan terhadap perempuan adalah bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

“Ini tidak ada tempatnya dalam Islam — karena Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pendidikan,” kata Nawida.

Anggota pasukan keamanan Taliban berjalan di dekat lokasi serangan di Shahr-e-naw yang merupakan salah satu kawasan komersial utama kota di Kabul, Afghanistan, Senin (12/12/2022). Foto: Wakil Kohsar/AFP

Tak hanya dari sisi ulama perempuan, namun seorang imam pria yang tinggal Afghanistan juga berpendapat serupa. Ia setuju, baik laki-laki maupun perempuan harus dapat dididik di bawah Islam.

Para pengamat mengatakan, larangan mengenyam pendidikan tinggi hanyalah kelanjutan dari tujuan awal Taliban untuk menekan perempuan dan menghapus kebebasan yang mereka seharusnya miliki.

Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, percaya bahwa pendidikan formal modern — terutama bagi perempuan muda dan anak perempuan, dipandang salah dalam ajaran Islam.

Langkah ini tercermin dalam tindakan pemerintah yang sejak November lalu menerapkan pembatasan pemilihan mata kuliah bagi perempuan dari program studi esensial, seperti ekonomi, teknik, dan jurnalisme, serta melarang perempuan mengunjungi taman dan pusat kebugaran (gym).

Source : https://binabaca.com/

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments